Rabu, 22 Januari 2014

mengapa produsen perlu mengamati perilaku konsumen

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

   Produsen dapat didefinisikan sebagai pihak-pihak yang melakukan keiatan memproduksi barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Sebuah riset pemasaran adalah langkah yang peting bagi produsentujuannya untuk mendapatkan informasi mengenai produk-produk atau jasa apa saja yang sedang dibutuhkan masyarakat, disenangi oleh masyarakat, dan barang apa saja yang sedang trend dan muncul yang dibutuhkan masyarakat. Sebagai produsen harus bisa mengetahui pergeakan pasar, agar produk yang dihasilkan dapat menarik konsumen dan juga dapat memuaskan para konsumen, dengan mempunyai pola pikir yang kreatif dan inovatif dalam memproduksi barang, memikirkan produk alternaif menentuhan kemudahan dalam penggunaan produk yang bisa meningkatkan minat konsumen dengan cara memberikan estetika dalam penampilan produk sehingga menarik banyak pembeli. Produsen harus mampu memperhatikan perubahan pola prilaku konsumen dan tindakan ini sangat penting untuk perbedaan signifikan antara konsumsi produk masyarakat kalangan atas, masyarakat kalangan menengah, dan kalangan menengah kebawah.
  
   Menurut Lamb hair and mc.Danrei, prilaku konsumen adalah proses seorang pelanggan dalam membuat keputusan untuk membeli, menggunakan, serta menkonsumsi barang-barang dan jasa yang dibeli termaksud factor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembeli dan penggunaan produk.
Prilaku konsumen dapat didefinisikan sebagai studi tentang proses pengambilan keputusan oleh konsumen dalam memilih,membeli,mamakai serta memanfaatkan produk,jasa,gagasan atau pengalaman dalam rangka memuaskan kebutuhan dan hasrat konsumen


1.2 Rumusan masalah
 Berdasarkan urusan latar belakag diatas maka dirumuskan sebagai berikut :
1.    Apa saja manfaat yang dibutuhkan perusahaan untuk memperhatikan perilaku para konsumen ?
2.    Bagaimana cara produsen atau perusahaan untuk menarik perhatian para konsumen dan masyarakat dengan produk yang dihasilkan ?
3.    Apa saja pengertian dari perilaku konsumen dan factor-faktor apa saja yang mempengaruhi perilaku konsumen ?
1.3 Tujuan
1.    Tujuan dalam makalah ini untuk mengetahui apa saja yang harus diperhatikan para produsen atau perusahaan atas perilaku konsumen
2.    Agar produsen atau perusahaan dapat lebih kreatif dan inovatif untuk membuat produk
3.    Untuk bisa memperhatikan kebutuhan masyarakat dan perkembangan pasar
1.4 Manfaat
1.    Hasil dari makalah ini untuk mendapatkan informasi dan masukan bagi perusahaan         untuk meningkatkan jumlah produk atau barang yang dihasilkan
2.    Untuk menambah wawasan bagi penulis dan para pembaca dari makalah ini
3.    Untuk mengetahui factor-faktor yang dapat mempengaruhi perilaku konsumen











BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Pengertian prilaku konsumen
   Perilaku Konsumen merupakan suatu tindakan yang tunjukkan oleh konsumen dalam hal mencari, menukar, menggunakan, menilai, mengatur barang atau jasa yang mereka anggap akan memuaskan kebutuhan mereka. Dalam arti lain perilaku ditunjukkan, yakni bagaimana konsumen mau mengeluarkan sumber dayanya yang terbatas seperti uang, waktu, tenaga untuk mendapatkan/ menukarkan dengan barang atau jasa yang diinginkannya. Analisis tentang berbagai faktor yang berdampak pada perilaku konsumen menjadi dasar dalam pengembangan strategi pemasaran. Untuk itu pemasar wajib memahami konsumen, seperti apa yang dibutuhkan, apa seleranya, dan bagaimana konsumen mengambil keputusan
Menurut Mowen (2002) bahwa, “perilaku konsumen (consumer behaviour) didefinisikan sebagai studi tentang unit pembelian (buying units) dan proses pertukaran yang melibatkan perolehan, konsumsi dan pembuangan barang, jasa, pengalaman serta ide-ide”.
Sedangkan menurut Kotler (2007) bahwa, “perilaku konsumen merupakan studi tentang cara individu, kelompok, dan organisasi menyeleksi, membeli, menggunakan, dan memposisikan barang, jasa, gagasan, atau pengalaman untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan mereka”.
The American Marketing Association dalam Setiadi (2003) menyatakan bahwa perilaku konsumen merupakan interaksi dinamis antara afeksi & kognisi, perilaku, dan lingkungannya dimana manusia melakukan kegiatan pertukaran dalam hidup mereka. Dari definisi tersebut terdapat 3 (tiga) ide penting perilaku konsumen, yaitu :
·         Perilaku konsumen bersifat dinamis. Itu berarti bahwa perilaku seorang konsumen, grup konsumen, ataupun masyarakat luas selalu berubah dan bergerak sepanjang waktu.
·         Perilaku konsumen melibatkan interaksi antara afeksi (perasaan) dan kognisi (pemikiran), perilaku dan kejadian di sekitar.
·         Perilaku konsumen melibatkan pertukaran, karena itu peran pemasaran adalah untuk menciptakan pertukaran dengan konsumen melalui formulasi dan penerapan strategi pemasaran.

Peter dan Olson (1999) dalam Simamora (2003) menyatakan bahwa perilaku konsumen adalah soal keputusan. Lebih jauh lagi, keputusan adalah soal pilihan. Untuk lebih jelasnya mereka menyatakan bahwa keputusan meliputi suatu pilihan “antara dua atau lebih alternatif tindakan atau perilaku”.

Sastradipora (2003) menyatakan bahwa perilaku konsumen adalah proses dimana para individu menetapkan jawaban atas pertanyaan: perlukah, apakah, kapankah, dimanakah, bagaimanakah, dan dari siapakah membeli barang atau jasa

Solomon (2003) menyatakan bahwa perilaku konsumen merupakan suatu proses yang melibatkan seseorang ataupun suatu kelompok untuk memilih, membeli, menggunakan dan memanfaatkan barang-barang, pelayanan ide, ataupun pengalan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan.

2.2 Ciri-ciri Perilaku Konsumen
Ada beberapa ciri-ciri pelanggan yang sering kita lihat, yaitu sebagai berikut:
A. Pelanggan Pemalu yang Sulit Diajak Bicara atau Didekati :
·      Jarang berbicara, tidak menyatakan pendapat
·      Sedikit gugup dalam berbicara
·      Sering berdiam diri dengan wajah tanpa ekspresi
Cara menghadapinya:
-      Hadapi dengan ramah, penuh perhatian dan rasa hormat
-      Ajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat menarik perhatiannya
-      Ciptakan suasana pembicaraan yang mengandung canda/humor tetapi sopan

    

B. Pelanggan Ragu-ragu atau Hati-hati :
·      Selalu ragu dalam memutuskan sesuatu, karena diliputi kebimbangan
·      Dalam memutuskan sesuatu selalu meminta pendapat orang lain
·      Kurang percaya diri
Cara menghadapinya:
-      Petugas pelayanan harus bersikap tenang, penuh percaya diri dan menguasai bidangnya
-      Jangan memberikan banyak pilihan
-      Ikuti saja selera pelanggan, jangan memaksakan pendapat kita
-      Apabila pelanggan tidak cukup uang untuk membeli produk yang diinginkannya, tawarkan barang lain atau merk lain dengan hati-hati tanpa menyinggung perasaan.
C. Pelanggan yang Banyak Bicara :
·      Suka mendominasi dan mencari perhatian
·      Suka mencorocos bicara tentang segala hal
·      Kurang peduli terhadap orang lain, karena lebih mementingkan diri sendiri
        Cara menghadapinya:
-      Segera tawarkan bantuan yang diperlukan olehnya
-      Pujilah kehebatan bercerita
-      Sekali lagi tawarkan bantuan dan segera alihkan perhatiannya ke produk yang ditawarkan
-      Bila akhirnya pelanggan membeli produk kita, katakan akan segera dihubungi apabila ada produk baru
-      Mintalah alamat dan nomor teleponnya
             

  D.    Pelanggan yang Banyak Permintaan :
·      Selalu tidak puas, suka membanding-bandingkan dan suka iri hati terhadap apa yang
·      diperolah oleh orang lain
·      Bila membeli suatu barang selalu menanyakan hadiah ekstra
·      Suka banyak bertanya/bicara, padahal tujuannya hanya iseng mengerjai petugas.
Cara menghadapinya:
Dengarkan dan simaklah permintaannya
Penuhilah permintaannya
Ucapkan permohonan maaf dan sarankan pilihan lain, bila pelanggan tidak puas terhadap pelayanan kita
Jika tidak mampu melayani, segera mintalah bantuan atasan kita
Usahakan tersenyum walaupun hati kita terasa dongkol
E.    Pelanggan yang Curiga :
·      Selalu mencari kesalahan orang lain/petugas
·      Selalu menampakkan wajah menyelidik, tidak senang, was-was, khawatir akan ditipu atau diperas
·      Kurang percaya terhadap orang lain.
Cara mengatasinya:
-      Petugas jangan bersikap bimbang, harus tegas dan meyakinkan
-      Jangan sok menggurui
-      Bila diperlukan, segera peragakan produk yang diminta pelanggan untuk menambah
-      Keyakinannya bila pelanggan meragukan keunggulan produk yang dibelinya, segera berikan jaminan bahwa produk dapat ditukar atau dikembalikan apabila produk yang dibeli tersebut tidak sesuai harapannya
F. Pelanggan yang Sombong :
·      Selalu ingin menonjol dengan tingkah laku yang berlebihan
·      Dalam berbicara dan berpenampilan selalu ingin menjadi pusat perhatian
·      Mereka juga bisanya suka membual/bohong
·      Bila tersinggung, terkadang suka menghina orang/petugas
Cara menghadapinya:
-      Jangan terpengaruh oleh kata-kata dan penampilannya
-      Berikan perhatian penuh atas kedatangannya, bila perlu dengan sedikit pujian
-      Tetap tenang dan sabar menghadapi segala sikapnya dan jangan terlalu serius menghadapinya
-      Ciptakan kesan bahwa pelanggan tersebut adalah tamu istimewa
G.  Pelanggan yang Lugu :
·      Ia biasanya tampak bingung dan ragu
·      Tidak percaya diri
·      Mudah dipengaruhi
      Cara menghadapinya:
        - Terimalah pelangan dengan apa adanya
        - Tanyakan apa yang dibutuhkannya dan tegaskan bahwa kita siap membantu
        - Layani terus berdasarkan permintaannya
        - Jangan coba-coba membohonginya





2.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen
1. Faktor Sosial
a. Grup
Sikap dan perilaku seseorang dipengaruhi oleh banyak grup-grup kecil. Kelompok dimana orang tersebut berada yang mempunyai pengaruh langsung disebut membership group. Membership group terdiri dari dua, meliputi primary groups (keluarga, teman, tetangga, dan rekan kerja) dan secondary groups yang lebih formal dan memiliki interaksi rutin yang sedikit (kelompok keagamaan, perkumpulan profesional dan serikat dagang). (Kotler, Bowen, Makens, 2003, pp. 203-204).
b. Pengaruh Keluarga
Keluarga memberikan pengaruh yang besar dalam perilaku pembelian. Para pelaku pasar telah memeriksa peran dan pengaruh suami, istri, dan anak dalam pembelian produk dan servis yang berbeda. Anak-anak sebagai contoh, memberikan pengaruh yang besar dalam keputusan yang melibatkan restoran fast food. (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.204).
c. Peran dan Status
Seseorang memiliki beberapa kelompok seperti keluarga, perkumpulan-perkumpulan, organisasi. Sebuah role terdiri dari aktivitas yang diharapkan pada seseorang untuk dilakukan sesuai dengan orang-orang di sekitarnya. Tiap peran membawa sebuah status yang merefleksikan penghargaan umum yang diberikan oleh masyarakat (Kotler, Amstrong, 2006, p.135).

2. Faktor Personal
a. Situasi Ekonomi
Keadaan ekonomi seseorang akan mempengaruhi pilihan produk, contohnya rolex diposisikan konsumen kelas atas sedangkan timex dimaksudkan untuk konsumen menengah. Situasi ekonomi seseorang amat sangat mempengaruhi pemilihan produk dan keputusan pembelian pada suatu produk tertentu (Kotler, Amstrong, 2006, p.137).
b. Gaya Hidup
Pola kehidupan seseorang yang diekspresikan dalam aktivitas, ketertarikan, dan opini orang tersebut. Orang-orang yang datang dari kebudayaan, kelas sosial, dan pekerjaan yang sama mungkin saja mempunyai gaya hidup yang berbeda (Kotler, Amstrong, 2006, p.138)
c. Kepribadian dan Konsep Diri
Personality adalah karakteristik unik dari psikologi yang memimpin kepada kestabilan dan respon terus menerus terhadap lingkungan orang itu sendiri, contohnya orang yang percaya diri, dominan, suka bersosialisasi, otonomi, defensif, mudah beradaptasi, agresif (Kotler, Amstrong, 2006, p.140). Tiap orang memiliki gambaran diri yang kompleks, dan perilaku seseorang cenderung konsisten dengan konsep diri tersebut (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.212).
d. Umur dan Siklus Hidup
Orang-orang merubah barang dan jasa yang dibeli seiring dengan siklus kehidupannya. Rasa makanan, baju-baju, perabot, dan rekreasi seringkali berhubungan dengan umur, membeli juga dibentuk oleh family life cycle. Faktor-faktor penting yang berhubungan dengan umur sering diperhatikan oleh para pelaku pasar. Ini mungkin dikarenakan oleh perbedaan yang besar dalam umur antara orang-orang yang menentukan strategi marketing dan orang-orang yang membeli produk atau servis. (Kotler, Bowen, Makens, 2003, pp.205-206)
e. Pekerjaan
Pekerjaan seseorang mempengaruhi barang dan jasa yang dibeli. Contohnya, pekerja konstruksi sering membeli makan siang dari catering yang datang ke tempat kerja. Bisnis eksekutif, membeli makan siang dari full service restoran, sedangkan pekerja kantor membawa makan siangnya dari rumah atau membeli dari restoran cepat saji terdekat (Kotler, Bowen,Makens, 2003, p. 207).

3. Faktor Psikologi
a. Motivasi
Kebutuhan yang mendesak untuk mengarahkan seseorang untuk mencari kepuasan dari kebutuhan. Berdasarkan teori Maslow, seseorang dikendalikan oleh suatu kebutuhan pada suatu waktu. Kebutuhan manusia diatur menurut sebuah hierarki, dari yang paling mendesak sampai paling tidak mendesak (kebutuhan psikologikal, keamanan, sosial, harga diri, pengaktualisasian diri). Ketika kebutuhan yang paling mendesak itu sudah terpuaskan, kebutuhan tersebut berhenti menjadi motivator, dan orang tersebut akan kemudian mencoba untuk memuaskan kebutuhan paling penting berikutnya (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.214).
b. Persepsi
Persepsi adalah proses dimana seseorang memilih, mengorganisasi, dan menerjemahkan informasi untuk membentuk sebuah gambaran yang berarti dari dunia. Orang dapat membentuk berbagai macam persepsi yang berbeda dari rangsangan yang sama (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.215).
c. Pembelajaran
Pembelajaran adalah suatu proses, yang selalu berkembang dan berubah sebagai hasil dari informasi terbaru yang diterima (mungkin didapatkan dari membaca, diskusi, observasi, berpikir) atau dari pengalaman sesungguhnya, baik informasi terbaru yang diterima maupun pengalaman pribadi bertindak sebagai feedback bagi individu dan menyediakan dasar bagi perilaku masa depan dalam situasi yang sama (Schiffman, Kanuk, 2004, p.207).
d. Beliefs and Attitude
Beliefs adalah pemikiran deskriptif bahwa seseorang mempercayai sesuatu. Beliefs dapat didasarkan pada pengetahuan asli, opini, dan iman (Kotler, Amstrong, 2006, p.144). Sedangkan attitudes adalah evaluasi, perasaan suka atau tidak suka, dan kecenderungan yang relatif konsisten dari seseorang pada sebuah obyek atau ide (Kotler, Amstrong, 2006, p.145).


4. Faktor Kebudayaan
Nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan, dan perilaku yang dipelajari seseorang melalui keluarga dan lembaga penting lainnya (Kotler, Amstrong, 2006, p.129). Penentu paling dasar dari keinginan dan perilaku seseorang. Culture, mengkompromikan nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan, dan perilaku yang dipelajari seseorang secara terus-menerus dalam sebuah lingkungan. (Kotler, Bowen, Makens, 2003, pp.201-202).
a. Subkultur
Sekelompok orang yang berbagi sistem nilai berdasarkan persamaan pengalaman hidup dan keadaan, seperti kebangsaan, agama, dan daerah (Kotler, Amstrong, 2006, p.130). Meskipun konsumen pada negara yang berbeda mempunyai suatu kesamaan, nilai, sikap, dan perilakunya seringkali berbeda secara dramatis. (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.202).
b. Kelas Sosial
Pengelompokkan individu berdasarkan kesamaan nilai, minat, dan perilaku. Kelompok sosial tidak hanya ditentukan oleh satu faktor saja misalnya pendapatan, tetapi ditentukan juga oleh pekerjaan, pendidikan, kekayaan, dan lainnya (Kotler, Amstrong, 2006, p.132)

BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah ini adalah produsen harus sangat memperhatikan perilaku konsumen agar tetap bersaing dengan perusahaan lain dipasar, karena menurut saya produsen dan konsumen saling berkaitan dan konsumen adalah bagian penting dari perusahaan untuk mengembangkan produk supaya laku dipasaran, dan produsen bisa menambah kreativitasnya didalam perusahaan untuk bersaing dengan perusahaan lainnya.

Daftar Pustaka
2.     http://syifa-rizkyka.blogspot.com/2012/10/perilaku-konsumen.html


Minggu, 24 November 2013

Prilaku konsumen terhadap steak moen-moen


 Steak Moen-Moen
Steak Moen-Moen berdiri sejak tahun 2005, dan cabang pertamanya adalah di Kota Solo, Jawa Tengah. Dan Moen-Moen hanya mengandalkan hidangan steak sebagai sajian utama dari resto ini, namun pengunjungnya sangat ramai.
Bagaimana tidak, satu porsi steak dengan cita rasabintang lima ini hanya dihargai Rp 11.000, maka tak heran di kalangan mahasiswa  Konsumen Tertarik terhadap Steak Moe-Moen
Steak, makanan khas Eropa ini sudah sangat tidak asing untuk kita dengar bahkan kita rasakan. Jenis makanan padat yang terdiri dari protein, karbohidrat dan vitamin ini menambah para penggemarnya untuk tidak ragu dalam mengonsumsi makanan ini.
Perpaduan antara daging , kentang goreng, sayuran dan saus khas yang menambah cita rasa makanan pilihan ini.
Rasa yang enak, bahan yang berkualitas, terkenal dengan harga yang tidak mahal pula. Walaupun kita memiliki pilihan dalam ragam menu yang berbeda harga. Seperti yang kita kenal steak memiliki beberapa olahan bahan utama, diantaranya tenderloin steak, sirloin steak, chicken steak, dan fish steak. Ini bisa dipilih sesuai dengan selera konsumen yang ingin menikmati dan sesuai dengan berapa kroscek yang harus dikeluarkan.
Sebagai mahasiswa saya terkadang merasa berat untuk mengeluarkan uang jajan demi seporsi steak yang sangat menggiurkan selera. Untung saja, ada satu tempat yang saya temukan untuk menikmati steak dengan harga yang sangat miring dan sesuai dengan kantong mahasiswa. 
MOEN-MOEN STEAK, dengan harga berkisaran 10-20 ribu rupiah saja, kita bisa menikmati steak dengan berbagai variasi. Menu yang disajikan pun lumayan lengkap. Spaghetti, milk shake dan varian lain turut melengkapi daftar menu di MOEN-MOEN STEAK ini
Pengaruh konsumen dalam ketertarikan steak moen-moen ini dikarenakan:
1.Kematangan daging
2.Porsi
3.Komposisi saus dan sayuran
4. Rasa
5. Pelayanan
6. Dll

Minggu, 03 November 2013

Faktor-faktor yang mempengaruhi konsumen dalam bidang pakaian


Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Konsumen Dalam  Berpakaian
1.
Faktor Kebudayaan
Faktor kebudayaan berpengaruh luas dan mendalam terhadap perilaku pembelian konsumen dalam factor kebudayaan ini terdapat beberapa komponen antara lain budaya merupakan factor penentuan yang paling mendasar dari keinginan dan perilaku seseorang karena kebudayaan menyangkut segala aspek kehidupan manusia. Banyak sub budaya yang membentuk segmen pasar penting dan pemasar sering merancang produk dan program pemasaran yang diseasuaikan dengan kebutuhan mereka. Jadi factor kebudayaan yang mempengaruhi pembelian konsumen dari segi pakaian sangat berpengahuh terhadap pembelian konsumen. misalnya konsumen di Indonesia lebih memilih membeli batik dibandingkan membeli kain sari dari Negara india karena batik merupakan pakaian kebudayaan asal Indonesia, dan oleh karena itu konsumen di Indonesia akan lebih memilih membeli batik yang berasal dari Negara Indonesia dibandingkan dengan membeli kain sari yang berasal dari india.

2.
Faktor Sosial
Selain factor budaya prilaku seorang konsumen juga dipengaruhi oleh factor-faktor social. Seperti kelompok acuan, keluarga, serta peran dan status. Kelompok acuan seseorang terdiri dari semua kelompok yang memilikipengaruh  langsung atau tidak langsung terhadap sikap atau perilaku seseorang.
Factor keluarga merupakan organisasi pembelian konsumen yang paling penting dalam masyarakat. Factor peran dan status meliputi kegiatan yang diharapkan akan dilakukan oleh seseorang. Jadi factor social yang mempengaruhi pembelian konsumen dari segi pakaian misalnya status seorang manajer dengan office boy akan berbeda selera pembelian pakaian mereka dari segi harga,kualitas, dan tempat pembelian pakaian tersebut karena dipengaruhi status social orang tersebut karena  tingkatan pendapatan yang berbeda.

3.
Faktor Pribadi
Factor pribadi merupakan cara mengumpulkan dan mengelompokkan kekonsistenan reaksi seseorang individu terhadap situasi yang terjadi dalam membeli sesuatu juga dipengaruhi oleh factor kepribadian dari konsumen yang bersangkutan. Jadi factor pribadi yang mempengaruhi pembelian konsumen misalnya dari segi usia seorang konsumen akan memakai pakaian sesuai dengan usia mereka, misalnya anak-anak akan mengunakan pakaian anak-anak, dari segi jenis kelamin misalnya seorang wanita akan memakai rok atau pakaian feminime seperti dres dan pria akan lebih memilih memakai pakaian yang maskulin seperti t-shirt, dan jaket.

4.
Faktor psikologi
Pilihan pembelian konsumen oleh 4 faktor psikologi utama yaitu motivasi, presepsi, pembelajaran, serta keyakinan dan pendirian.Motivasi konsumen memiliki banyak kebutuhan pada waktu tertentu, presepsi seseorang konsumen yang termotivasi akan siap untuk bertindak bagaimana seorang konsumen yang termotivasi akan dipengaruhi oleh presepsinya terhadap situasi tertentu. factor psikologi yang mempengaruhi pembelian konsumen dari segi pakaian misalnyaseseorang sudah terbiasa membeli pakaian dengan merk zara maka seseorang tersebut jika pergi ke pusat perbelanjaan akan lebih memilih pakaian dengan merk zara dibandingkan merk lainnya karena factor psikologi yang sudah terbiasa, nyaman dan puas dengan merk tersebut.










BAB III PEMBAHASAN
PAKAIAN BAGI MANUSIA
3.1.Pentingnya Pakaian Bagi manusia
Pakaian adalah salah satu kebutuhan pokok bagi manusia, tanpa pakaian manusia tidak dapat menutupi tubunya dengan aman. Pakaian juga adalah hal penting untuk menunjang penampilan, dengan pakaian manusia dapat memiliki kepercayaan diri dihadapan manusia lainnya.
Pakaian adalah pelindung tubuh yang paling utama dari hal-hal lain seperti perawataan-perawataan kulit dan sebagainya. Manusia dapat merasakan manfaat dari pakaian yaitu  : penutup badan dari sengatan panas matahari, menutupi aurat, penunjang penampilan agar terlihat lebih baik dan percaya diri, dll.
3.2.Hubungan Pakaian Dengan Gaya Hidup
Seiring majunya perkembangan jaman fasion pun menjadi hal yang penting bagi manusia saat ini.Misalnya fasion dalam hal berpakaian saat ini merupakan hal paling penting bagi sebagian orang.
Banyak model pakaian yang bisa manusia pakai untuk menutupi tubuhnya atau bahkan menjadi penunjang penampilan mereka. Contohnya model pakaian muslim untuk orang muslim yang mengenakan kerudung, baju pesta untuk orang yang senang menghadiri undangan hiburan, jamuan, dll.
Begitu banyak model pakaian di dunia ini sehingga banyak pula gaya yang disenangi manusia dalam berpakaian sesuai dengan gaya hidup mereka.
Tetapi tidak sedikit juga manusia yang memilih pakaian berdasarkan kenyamanan bukan mengutamakan penampilan, contohnya pemakaian kaos oblong agar simple untuk melakukan kegiatan tanpa merasa repot.



3.3.Pengaruh Harga Pakaian Terhadap Daya Beli Konsumen
Pakaian bermerek dan mempunyai daya jual tinggimungkin tidak jadi masalah untuk orang yang memiliki uang, tetapi untuk orang yang mempunyai daya beli yang rendah hal tersebut bukanlah hal yang harus diutamakan pada saat akan membeli.
Orang yang memiliki daya beli tinggi biasanya memperhatikan merek dan kualitas pada saat akan mmbeli, berbanding terbalik dengan orang yang daya belinya rendah mereka cenderung mengutamakan harga, kenyamanan contohnya pakaian murah, bagus dilihat dan enak dipakai maka mereka akan langsung tertarik dengan pakaian tersebut dan langsung membelinya sesuai kemampuan daya beli mereka.

3.4.Gaya Berpakaian Sesuai Tingkatan Sosial Manusia
Bermacam-macam tingkatan social manusia di dunia ini. Dari tingkat bawah sampai atas memiliki gayaberpakaian berbeda pula.
Dilihat dari tingkatan social yang paling rendah contohnya seorang pedagang kaki lima yang penghasilannya hanya untuk kebutuhan pokok saja maka dapat terlihat jelas mereka belum memikirkan penampilan atau cara berpakaian, mereka lebih memikirkan hal lain seperti makan untuk sehari-hari dibanding membeli pakaian.
Kemudian dari tingkat social menengah manusia sudah mulai memperhatikan gaya berpakaiannya, misalnya seorang guru SD senang membeli pakaian yang terlihat sopan dan rapi dengan harga yang lumayan. Mereka juga mulai memperhatikan merek dan kualitas tetapi mereka juga masih membanding-banding harga saat akan membeli dan melihat kemampuan daya belinya sendiri
Lalu dari tingkat social atas yang sudah memiliki segaalanya.dapat kita lihat bahwa mereka sudah bahkan amat sangat memperhatikan gaya berpakaian dan sebagai penunjang penampilan mereka. Mereka beranggapan pakaian mencerminkan bagaimana sosok dan kepribadian seseorang. Misalnya seorangpengusaha sukses dan ternama lebih memilih pakaian yang bermerek, berkualitas dan memiliki daya jual atau harga yang tinggi dengan alasan agar mereka tidak dipandang sebelah mata oleh lawannya.
Harga yang sangat amat mahal untuk sebuah pakaian tidak dipermasalahkan mereka, karena mereka lebih mengutamakan pengakuan diri dari cara mereka menonjolkan diri dari cara berpakaian. Berbeda dengan tingkat menengah dan bawah yang masih memperhatikan harga.